Posts

Pedih

Engkau yang sedang patah hati Menangislah dan jangan ragu ungkapkan Betapa pedih hati yang tersakiti Racun yang membunuhmu secara perlahan Engkau yang saat ini pilu Betapa menanggung beban kepedihan Tumpahkan sakit itu dalam tangismu Yang menusuk relung hati yang paling dalam Hanya diri sendiri yang tak mungkin orang lain akan mengerti Di sini kutemani kau dalam tangismu Bila air mata dapat cairkan hati Kan kucabut duri pedih dalam hatimu Agar kulihat senyum di tidurmu malam nanti Anggaplah semua ini Satu langkah dewasakan diri Dan tak terpungkiri juga bagi Engkau yang hatinya teluka Dipeluk nestapa tersapu derita Seiring saat keringnya air mata Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya Hanya diri sendiri yang tak mungkin orang lain akan mengerti Di sini kutemani kau dalam tangismu Bila air mata dapat cairkan hati Kan kucabut duri pedih dalam hatimu Agar kulihat senyum di tidurmu malam nanti Anggaplah semua ini Satu langkah dewasa...

BINTANG TAK DATANG

CAKRAWALA MENJINGGA CERAH MENTARI SEMBUNYI DI UFUK BARAT CAMAR-CAMAR TERBANG MERUMAH SIANG MELUNTUR SECEPAT KILAT MALAM HITAM KEMBALI DATANG MENGHAMPIRI TAK MEMBAWA BINTANG REMBULAN BULAT NAMUN TAK MATANG DI SINIKU MENANTINYA BIMBANG MALAM TERLANJUR GELAP SUNYI PUN TURUT MELALAP IA TERDIAM MENETAP TAK DAPAT KU TERLELAP MALAM SERASA SEPANJANG JALAN JALANKU MENUJU KEDAMAIAN MENGHINDARI SEMUA KENYATAAN JAUH TERBANG MELAYANG                 HILANG

Mencoba Hal yang "Tidak Mungkin"

Langit emang lagi cerah, tapi gue kok ngerasa ini gelap semua ya? Gue juga ngerasa kayak ada yang ganjel. Kayak kerikil kecil, tapi kalo kerikilnya jadi lebih banyak, gue gak bisa berjalan. Pengen banget rasanya gue nyebur ke laut, mungkin kehidupan di bawah sana lebih indah. Ngeliat ikan-ikan yang cantik, lucu, imut gemes (deh?), ngeliat ikan badut yang bisa hidup bersama-sama dengan anemon laut meskipun anemon laut beracun, menjadi anak buahnya ikan paus biru, disayang sama hiu biar dia bisa jadi pelindung gue, menghindar dengan menggunakan segumpalan tinta hitam layakya cumi-cumi. Menjadi hewan terpintar selautan seperti lumba-lumba agar gue gak selalu dibodohin dan mencari keberadaan atlantis bersama lumba-lumba tersebut. Atau, pergi ke hutan dan tinggal di sana bersama burung-burung kecil indah yang berkicau setiap pagi. Mencari ketenangan di sana. Diajak adu lari sama burung unta. Ikut berburu dengan harimau yang gagah berani perkasa dan bijaksana. Menggapai sesuatu yang sus...

Samar

Melayap wajah sekilas Meraut suka seuntai Tiada kata terbalas ucap Terbalas sapa dan tanya       berpaling perasa   berbalik kemurahan   durjana temaram malam   hati terkelabui Usap . . .   usaplah . . .   sayang . . .   sayangku . . . Jangan melayan , melawat   mayat . . . Karya : Ibuku Bekasi, 1988

Embun yang Hilang

Jauh sudah ku lepas Pandangku, menyeluruh zaman Saat surga hati nurani terlelap Butir telah hilang Dalam tetes daunnya Jangan terlelap ! Terjagalah ! Bangunlah ! Senantiasa Surga Mu turun Hilang hanya setitik Sekendi harapan masih menumpuk Berserak ... tak terarah                  tunjuk !                  tunjuklah !                      dia Karya : Ibuku Bekasi, 1988

Tak Kan Kudapat

Image
Bagai bumi dan langit Perbedaan di antara kita Bagai kau di seberang samudra Memberi jarak antara kita Tanah meretak, guntur menggelegar Kau tampak tak merasa *** Jarak semakin jauh Ku berusaha mendekat Tak berdaya ku tak bisa *** Ku menyadari keelokkanmu Membuat setiap mata terpana Sedang, ku hilang ditelan gelombang Tenggelam dalam keheningan malam *** Sungguh, bukan hanya diriku yang mengagumimu Burung-burung pun tampak terpaku Menatap indahnya parasmu Langit pun seakan ingin memelukmu Ingin merasakan kehangatanmu Namun, Kembali ku sadar Kau hanyalah mimpi indahku Yang terpisah ruang dan waktu Takkan dapat ku menggapaimu Walau atas izin sang waktu (November 2013)

Angan-Angan Palsu

Image
Pandanganku buram kelam Tiada bayangan yang tertangkap Hidupku teramat sunyi Mentari menghindar pergi Rembulan dahulu terang Kini samar terpandang Jalanku tak berarah Tak mengerti kemana kan pergi Kini, seberkas cahaya datang Bayanganmu jelas tampak Sesosok tubuh yang anggun dan mempesona Hadir menghampiri hidupku Sinarmu menggantikan cerahnya mentari Mentari pergi seakan ku tak peduli Jika dirimu telah hadir di sini Setiakah kau selalu menemani? Tampaknya kau hanya angin berlalu Untuk berhembus hanya sekejap Hatimu seperti telah membeku Mengacuhkan beningnya hatiku Jika kau hendak berlalu Pergilah ! Tinggalkanku di sini sendiri Biar angin sesungguhnya yang menemani Meskipun ia juga kan berhembus pergi